- Advertisement -
Beranda BERANDA Menikahi Wanita Yang Ditinggal Suaminya, Ini Hukumnya

Menikahi Wanita Yang Ditinggal Suaminya, Ini Hukumnya

- Advertisement -

Jakarta, satubangsa.net – Ada seorang perempuan yang dahulunya menikah secara sirri atau tanpa tercatat di Kantor Urusan Agama (KUA) dengan seorang lelaki yang menghamilinya di luar nikah. Namun di kemudian hari suaminya pergi dan hilang kabar keberadaannya hingga dua tahun. Nah, saat itu ada lelaki lain yang hendak meminangnya.

Si perempuan dan keluarganya pun kebingungan menerima pinangan tersebut. Mau diterima, si perempuan masih dalam pernikahan yang pertama; mau ditolak, suaminya telah lama meninggalkannya tanpa tanggung jawab dan tidak diketahui keberadaannya. Mau diurus ke pengadilan agama, pernikahannya tidak tercatat di KUA

Dalam kasus seperti itu, sebenarnya sampai kapankah si perempuan harus menunggu kabar keberadaan suaminya dan boleh menikah dengan lelaki lain.

Dalam menyikapi kasus tersebut, ini jawaban hukumnya. Suami yang pergi hingga tidak diketahui keberadaannya dalam waktu yang cukup lama dalam fiqih dikenal dengan istilah mafqûd. Hilangnya kabar keberadaan suami dapat disebabkan pergi tanpa kabar, menjadi korban bencana semisal banjir yang tidak ditemukan jasadnya atau lainnya.

Dalam kondisi seperti itu terdapat dua pendapat dari kalangan ulama. Pendapat pertama, si perempuan harus menunggu hingga diyakini ikatan pernikahannya dengan si suami telah terputus, baik karena kematian suaminya, kabar talak darinya, maupun semisalnya. Kemudian ia telah menjalani masa iddahnya. Hal ini mengingat hukum asal dalam kasus tersebut adalah si suami masih hidup dan status pernikahannya masih berlaku secara menyakinkan sehingga tidak dapat dianggap batal kecuali secara meyakinkan pula. Demikian pendapat Imam As-Syafi’i rahimahullâh dalam qaul jadîd.

قوله (وَمَنْ غَابَ) بِسَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِ (وَانْقَطَعَ خَبَرُهُ لَيْسَ لِزَوْجَتِهِ نِكَاحٌ حَتَّى يُتَيَقَّنَ) أَيْ يُظَنَّ بِحُجَّةٍ كَاسْتِفَاضَةٍ وَحُكْمٍ بِمَوْتِهِ (مَوْتُهُ أَوْ طَلَاقُهُ) أَوْ نَحْوُهُمَا كَرِدَّتِهِ قَبْلَ الْوَطْءِ أَوْ بَعْدَهُ بِشَرْطِهِ ثُمَّ تَعْتَدُّ لِأَنَّ الْأَصْلَ بَقَاءُ الْحَيَاةِ وَالنِّكَاحِ مَعَ ثُبُوتِهِ بِيَقِينٍ فَلَمْ يَزُلْ إلَّا بِهِ أَوْ بِمَا أُلْحِقَ بِهِ

Baca Juga:   Tips Mempersiapkan Liburan Akhir Tahun

Pendapat kedua, si perempuan harus menunggu sampai lewat masa empat tahun qamariyyah dan kemudian melakukan iddah selama empat bulan 10 hari. Masa empat tahun digunakan standar karena merupakan batas maksimal usia kehamilan. Sedangkan perhitungannya dimulai sejak hilangnya keberadaan suami atau keputusan hukum dari hakim atas kematian suami.

Baca Juga:   Menaker Sosialisasikan Senam Sehat Pekerja

قوله (وَفِي الْقَدِيمِ تَتَرَبَّصُ أَرْبَعَ سِنِينَ) قِيلَ مِنْ حِينِ فَقْدِهِ وَالْأَصَحُّ مِنْ حِينِ ضَرْبِ الْقَاضِي فَلَا يُعْتَدُّ بِمَا مَضَى قَبْلَهُ (ثُمَّ تَعْتَدُّ لِوَفَاةٍ وَتَنْكِحُ) بَعْدَهَا اتِّبَاعًا لِقَضَاءِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ بِذَلِكَ وَاعْتُبِرَتْ الْأَرْبَعُ لِأَنَّهَا أَكْثَرُ مُدَّةِ الْحَمْلِ.

Artinya, “(Menurut qaul qadîm, ia harus menunggu selama empat tahun), menurut satu versi: empat tahun itu dihitung sejak raibnya si suami. Sementara menurut versi al-ashhah, dihitung sejak ada keputusan dari hakim, maka waktu yang berlalu sebelumnya tidak di hitung. (Kemudian ia menjalani ‘iddah wanita yang ditinggal mati suaminya, lalu boleh menikah) setelahnya. Demikian karena mengikuti putusan hukum Umar RA dalam kasus tersebut. Penggunaan acuan empat tahun, mengingat masa tersebut merupakan batas maksimal masa kehamilan.” (Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfatul Muhtâj, cetakan pertama, Jilid X, halaman 457).

Pendapat qaul qadîm Imam As-Syafi’i rahimahullâh ini selaras dengan riwayat pendapat ulama lainnya. Dari generasi sahabat seperti ‘Umar bin Al-Khattab, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Utsman bin ‘Affan, dan Ibnu Mas’ud radhiyallâhu ‘anhum. Sedangkan dari generasi tabi’in ada An-Nakhai’, Atha’, Az-Zuhri, Makhul dan As-Sya’bi.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ أَنَّ عُمَرَ وَعُثْمَانَ قَضَيَا بِذَلِكَ وَأَخْرَجَ سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ بِسَنَدٍ صَحِيحٍ عَنِ بْنِ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ قَالَا تَنْتَظِرُ امْرَأَةُ الْمَفْقُودِ أَرْبَعَ سِنِينَ وَثَبَتَ أَيْضًا عَنْ عُثْمَانَ وَابْنِ مَسْعُودٍ فِي رِوَايَةٍ وَعَنْ جَمْعٍ مِنَ التَّابِعِينَ كَالنَّخَعِيِّ وَعَطَاءٍ وَالزُّهْرِيِّ وَمَكْحُوْلٍ وَالشَّعْبِيُّ

Baca Juga:   Millenial Bintang Sembilan NTB Peringati Haul Gusdur

Artinya, “Diriwayatkan dari Sa’id ibnul Musayyab, sungguh Umar dan Utsman pernah memutuskan hukum demikian. Dengan sanad shahih, Sa’id bin Manshur meriwayatkan dari Ibn Umar RA dan Ibnu Abbas RA, keduanya berkata, ‘Istri mafqûd harus menanti empat tahun.’ Riwayat ini ada pula yang berasal dari Utsman dan Ibnu Masud, dan dari sekelompok tabi’in semisal An-Nakha’i, Atha’, Az-Zuhri, Mahkul, dan As-Sya’bi.” (Ibnu Hajar Al-‘Asqalâni, Fathul Bâri Syarh Shahîhil Bukhâri, [Beirut, Dârul Kutub Al-‘Ilmiyyah, tanpa tahun], jilid IX, halaman 538).

Sumber : nu.or.id

- Advertisement -
- Advertisement -
Stay Connected
16,985FansSuka
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan
Must Read

Dukung Pemerintah Berantas Narkoba, Yonif PR 305/Tengkorak Adakan Sosialisasi dan Tes Urine Secara Acak

Karawang, satubangsa.net - Sejumlah anggota Batalyon Infanteri Para Raider 305/Tengkorak mendapatkan penyuluhan P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba) bertempat di Markas Yonif...
- Advertisement -

Perda Penanggulangan Penyakit Menular dan Tidak Menular Mulai Dibahas

Karawang, satubangsa.net - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Karawang melalui Panitia Khusus (Pansus) tengah menggodok Peraturan Daerah (Perda) tentang penanggulangan penyakit menular dan...

Ketua Tanfidziyah PCNU Buka Konfercab 2 Persatuan Guru NU Cianjur

Cianjur, satubangsa.net - Pimpinan Cabang (PC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Cianjur menggelar Konferensi Cabang Ke 2 di Aula PCNU Jalan Perintis Kemerdekaan,...
Related News

Dukung Pemerintah Berantas Narkoba, Yonif PR 305/Tengkorak Adakan Sosialisasi dan Tes Urine Secara Acak

Karawang, satubangsa.net - Sejumlah anggota Batalyon Infanteri Para Raider 305/Tengkorak mendapatkan penyuluhan P4GN (Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba) bertempat di Markas Yonif...

Perda Penanggulangan Penyakit Menular dan Tidak Menular Mulai Dibahas

Karawang, satubangsa.net - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Karawang melalui Panitia Khusus (Pansus) tengah menggodok Peraturan Daerah (Perda) tentang penanggulangan penyakit menular dan...

DPC PPP Karawang Gelar Muscab Ke Delapan

Karawang, satubangsa.net - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Karawang menggelar acara musyawarah cabang (Muscab) ke-VIII di Auditorium RM. Sindang Reret, Karawang Barat, Sabtu (16/10/2021) Dalam...

Ketua Tanfidziyah PCNU Buka Konfercab 2 Persatuan Guru NU Cianjur

Cianjur, satubangsa.net - Pimpinan Cabang (PC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kabupaten Cianjur menggelar Konferensi Cabang Ke 2 di Aula PCNU Jalan Perintis Kemerdekaan,...

Wabup KarawangOptimis Bela Negara Didik Pelajar Jadi Siswa Yang Kompeten

Karawang, satubangsa.net - Bertempat di aula Sudirman 305 Yonif Para Raider Kostrad, Wakil Bupati Karawang ,Aep Saepulloh beri motivasi kepada 100 siswa tingkat SMP...
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here